JARUM DI KAKI LINTANG
Mbak Atin duduk termangu di tangga rumah peninggalan bapak, rumah yang
dulu diperebutkan anak-anak bapak. Mbak Retno, mas Anggoro, dan mbak Ratna
bersama menantu-menantu bapak menuduh mbak Atin dan suaminya telah
mengguna-gunai bapak agar warisan rumah yang dulu kami tempati sewaktu kecil
jatuh ke tangan mbak Atin. Waktu itu mbak Atin cuma menangis bersandar di bahu
mas Teguh yang menunduk. Semua orang mengira mas Teguh pasrah menjadi tertuduh karena
takut, tapi aku sangat terkejut melihat kilat kemarahan di mata mas Teguh,
lelaki kalem yang dulu pernah menjadi pembina pramuka idola di sekolahku. Di
mata itu aku tak menangkap sedikitpun bayangan takut. Aku gelisah, ini pertanda
tak baik.
"Itu nggak mungkin mbak." Aku mencoba membela mbak Atin yang
hanya menangis, dia terlihat sangat lelah, kantung matanya tampak sangat jelas,
membuat wajah cantiknya tak menarik.
"Diam kamu Wulan! Anak kemarin sore sudah berani membantah! Tau apa
kamu!" Mbak Retno anak sulung kesayangan bapak membentakku. Aku terdiam.
Salahku sendiri sudah tahu tabiat kakakku satu itu, tetap saja berani bicara.
Di sini, di rumah ini semua kata-kata mbak Retno adalah perintah dan sepertinya
bapak mengamini setiap tindakannya.
Mata mbak Atin berkaca-kaca menatap Lintang, gadis kecil semata wayangnya
yang sedang asik meniup gelembung ludah di mulutnya, sambil sesekali tersenyum
bangga pada ibunya, seakan-akan pamer keahlian barunya. Mbak Atin tersenyum
kemudian menghapus ludah di mulut bocah kecilnya, dan disambut cemberut di
wajah mungil sikecil. Mbak Atin tersenyum menyadari kesalahannya kemudian
menggelitik perut mungil gadis kecilnya, membuat Lintang tertawa terkekeh-kekeh
kegelian. Mbak Atin mengelus luka di kaki gadis kecil itu, air matanya
mengalir.
"Mas lihat kaki Lintang!" Mbak Atin menjerit memanggil
suaminya. Mas Teguh melempar karung goni berisi kelapa yang dipanggulnya ke
tanah kemudian berlari menemui istrinya yang terlihat sangat cemas.
"Kenapa Tin? Kenapa kamu teriak-teriak begitu?" Mas Teguh panik
melihat mbak Atin menangis sambil memeluk Lintang yang pasrah tak bergerak
dalam pelukan ibunya. Mas Teguh tak sabar segera mengambil Lintang dari pelukan
istrinya, diperiksanya napas, dan badan Lintang, normal tak ada yang aneh tapi
memang Lintang terlihat lemah. Mas teguh menatap mbak Atin, bingung. Mbak Atin
menunjuk kaki kecil Lintang yang sedikit membengkak. Mas Teguh meraba kaki
Lintang, tapi segera mengangkat tangannya seakan-akan tersengat kalajengking.
Kemudian dengan tangan gemetar dan muka pucat mas Teguh mencoba meraba lagi
kaki Lintang yang memerah. "Duri, ini duri Tin." Setengah berbisik
Mas Teguh bicara pada mbak Atin. "Tapi darimana masuknya?"
Mas Teguh kebingungan, ia tak melihat tanda bekas duri-duri itu masuk
secara paksa, juga Lintang tak mengeluh sakit, hanya terlihat sangat kelelahan.
"Astaghfirullah, duh Gusti apa yang terjadi pada anak hamba."
Mas Teguh mengangkat tubuh lemah Lintang diiringi tatapan bingung mbak Atin.
"Cepat! Kita ke Puskes." Mas Teguh kesal melihat sikap lugu istrinya.
Mbak Atin mengangguk, kemudian berlari ke kamar mengambil tas kecil, kemudian
diisinya perlengkapan Lintang. Mbak Atin segera keluar mendengar teriakan tak
sabar suaminya.
"Kita rujuk ke Rumah Sakit Aisyah saja ya pak? Di sini tidak ada
alat nya." Mas Teguh hanya mengangguk mengiyakan usul dokter yang
memeriksa Lintang.
Dokter Aldi spesialis penyakit bedah di rumah sakit kebingungan melihat hasil
scan kaki Lintang, "Banyak sekali jarumnya pak? Sebenarnya apa yang
terjadi pada anak bapak?" Dokter
Aldi menunjukkan hasil ronsen pada mas Teguh. Mas Teguh menggeleng, dia
shock melihat keadaan anaknya. Ada dua puluh tiga buah jarum bertebaran di
kedua kaki Lintang.
"Kita bisa mengeluarkan jarum-jarumnya dengan melakukan tindakan
operasi pak. Bagaimana? Kalau bapak setuju silahkan urus administrasinya."
Dokter Aldi memberi saran, melihat mas Teguh hanya terpaku menatap lembaran
hasil ronsen kaki Lintang.
Mas Teguh terduduk lesu di bale-bale rumahnya, tak seorang pun saudara
atau teman yang bersedia meminjamkan uang sebanyak itu. Dia menatap uang tiga
juta di dalam kantong kresek di tangannya. Bingung, mau kemana lagi ia mencari
uang? Satu-satunya jalan adalah meminjam hutang pada rentenir. Tapi, mas Teguh
kapok meminjam uang pada rentenir. Rumah dan sawah mereka hilang diambil secara
paksa akibat bunga yang terus menumpuk tak pernah berkurang. Apalagi sekarang
tidak ada lagi yang bisa ia gadaikan.
Kesusahan mas Teguh bertambah saat ia melihat bapak berjalan dikejauhan
menuju rumah mereka. "Apa lagi ini?" Mas Teguh mengeluh dalam hati.
Mas Teguh hanya diam saat bapak mendekat, dia sudah menata hati siap disemprot
bapak dengan ceramah pedas yang sering dilontarkan bapak sejak dia dan mbak
Atin memutuskan menikah.
"Ini untuk pengobatan anakmu Le." Mas Teguh tertegun, ia
menatap bapak dengan muka tak percaya. Mas Teguh mengigit lidahnya, sakit! Ini
tidak bermimpi bapak memberi bungkusan berisi setumpuk uang kertas seratus
ribuan. "Mudah-mudahan cukup," kata bapak, kemudian pergi
meninggalkan mas Teguh yang bengong, kebingungan.
Bapak sekarat. Akibat kebiasaan buruk bapak yang sangat menyukai rokok,
pecandu berat orang bilang, bapak kena kanker, kanker paru. Penyakit kanker
parunya sudah memasuki stadium 4, dan tidak mungkin dioperasi lagi. Kami
anak-anaknya hanya bisa menangis melihat bapak menderita menahan sakit di
dadanya. Bapak menyuruhku mengambil surat wasiat yang disimpan di lemari
pakaiannya. Kemudian membacakannya di depan keluarga yang lagi berkumpul.
Mata mbak-mbak dan masku membesar mendengar sebagian besar harta warisan
bapak diberikan kepada mbak Atin. Tapi tak seorang pun yang komentar karena
masih ada bapak. Muka Mbak Atin pucat melihat kebencian dan kemarahan di mata
mereka. Kemudian bapak menyuruh kami meninggalkan mereka berdua, bapak dan mbak
Atin.
"Nduk maafkan bapak." Mbak Atin kebingungan melihat air mata
bapak menggenang di mata tuanya. "Bapak kenapa? Dimana yang sakit?"
Mbak Atin mencoba menenangkan bapak dengan mengurut-urut pelan tangan bapak.
Bapak menggeleng, " Ndak ada yang sakit, nduk." Bapak menatap mbak
Atin prihatin.
Mbak Atin keluar dari kamar bapak dengan wajah linglung, tak jelas apakah
itu sedih atau marah, bingung. Dia hanya menggigit bibir, diam seribu bahasa
saat ditanya mbak-mbakku yang penasaran.
Mas Teguh
khawatir dengan keadaan istrinya, ia segera pamit membawa mbak Atin pulang ke
rumah.
Begitu mbak Atin dan mas Teguh sampai di depan pintu, terdengar suara
mbak Retno memanggil bapak kemudian menangis. Mbak Atin terpaku. Air matanya
mengalir tapi tak bergeming. Aku kalut, bingung ingin aku berlari ke kamar
bapak, tapi entah kenapa aku malah berjalan mendekati pintu tempat mbak Atin
berdiri. Aku melihat secarik kertas yang lusuh lepas terjatuh dari tangan mbak
Atin. Tak seorangpun memperhatikan itu aku segera memungutnya diam-diam dan
menyimpannya.
"Kamu mau ngasih makan apa anakku?" Suara bapak menggelegar
memenuhi ruang-ruang di rumah panggung kami. Aku yang sedang menolong mbak
Ratna mencabut bulu ayam di dapur menoleh. Cemas. Mbak Ratna menatap aku penuh
tanya, kujawab dengan gelengan kepala.
Bapak melarang keras hubungan mbak Atin dengan mas Teguh. Tapi bukannya
takut mbak Atin malah nekat pacaran diam-diam, sampai akhirnya mereka berdua
kawin lari. Saat itu bapak benar-benar kebakaran jenggot akibat ulah kedua
orang itu. Tapi apa mau dikata darah lebih kental dari air, bapak merestui
pernikahan mereka berdua walau dengan sangat terpaksa. “Daripada malu lebih
dalam lagi,” kata bude Lastri pada bapak sewaktu mbak Atin kabur dengan mas
Teguh.
Secarik kertas bertuliskan tangan bapak berisi:
(Nduk, Atin maafkan bapak, bapak benar-benar ndak berniat mencelakakan
Lintang, anakmu, cucu bapak, bapak sangat kecewa sama pernikahan kalian, bapak
tadinya pingin memberi pelajaran sama suamimu ...., tapi bapak ndak menyangka
Lintang yang akan menerima akibatnya, bapak benar-benar minta maaf ya nduk.
Tapi sungguh bapak ndak nyuruh mbah ..e.. memasukkan jarum-jarum itu ke suamimu,
apalagi kaki anakmu, sungguh!.....)
Aku tidak dapat membaca beberapa tulisan bapak berikutnya. Air mata
sepertinya telah menghapus bagian-bagian yang penting dalam surat itu dan
sebagian akhir surat itu telah terkoyak dan hilang.
Aku benar-benar penasaran siapa yang telah berniat mencelakakan
keponakanku. Aku beberapa kali mencoba bertanya pada mbak Atin tapi mbak Atin
hanya diam dan menatapku dengan tatapan aneh yang aku tidak suka.
Kucoba bertanya-tanya pada orang-orang di sekitar rumahku, nama
orang-orang pandai paranormal yang mungkin menjadi kunci permasalahan. Kerja
keras dan tekatku terbayar, ada beberapa nama yang kudapatkan, dan yang paling
meyakinkan adalah mbah Rejo.
Kudatangi rumah mbah Rejo dengan perasaan takut, tempatnya sungguh tidak
menyenangkan, bukan karena tempatnya jelek atau jorok. Tidak! Tempatnya lumayan
bagus dan bersih tapi ada hawa yang berbeda. Membuat aku merinding.
Lelaki sepuh di depanku menatapku dingin. Uh aku sangat ingin pulang, aku
sangat menyesal sok berani dan mencoba menjadi detektif kacangan.
"Kau mau tahu apa?" Mbah Rejo bertanya dengan suara pelan tapi
dalam. Aku bingung. Kata-kata yang sudah kususun rapi berantakan.
"Maaf mbah saya cuma mau nanya apa benar bapak pernah ke sini?"
Alis mbah Rejo berkerut "Kau mau tanya apa aku yang mencelakakan
keponakanmu? Jawabannya tidak!" Aku terperangah, dia tau apa yang ku
pikirkan. Sekarang buntu. "Sebaiknya kau pulang! Tidak ada yang akan kau
dapatkan di sini". Mbah Rejo berkata tegas membuat aku tak dapat berbuat
apa-apa selain pulang.
"Bukan bapak pelakunya mbak" Aku mencoba mengklarifikasi
permasalahan yang terjadi. Mbak Atin diam tetap dengan tatapan anehnya,
menatapku. Membuat aku jengah.
"Aku tahu!" Tiba-tiba mbak Atin bersuara saat aku mulai putus
asa dengan sikapnya dan mulai melangkah pergi. Aku terkejut, menoleh dan
memandangnya bingung. Sungguh sangat banyak pertanyaan muncul di kepalaku.
"Ibunya mas Teguh sudah mengaku!" Kata mbak Atin dingin, aku
diam hampir aku tak mengenali suara itu. "Dia tersinggung pada hinaan
bapak, dia juga tak sudi punya menantu aku, dia ingin aku mati tapi yang kena
justru cucunya yang ada di perutku saat itu." Aku tertegun mendengarnya.
"Tapi kenapa mbak Atin sangat marah saat membaca surat dari
bapak?" Aku tak mengerti. Mbak Atin menyunggingkan senyum mengejek.
"Bila semua orang tua tega melakukan hal itu pada anaknya, maka siapa lagi
yang pantas dipercaya?"
Aku tertegun. Seringai penuh kebencian mbak Atin membuat aku takut.
(Ketika orang
tua menjadi orang asing bagi anak-anaknya sendiri, maka apa yang akan terjadi
pada generasi berikutnya? Apakah dapat menjadi lebih baik atau lebih
menakutkan? Semua tergantung pada kita sebagai generasi sekarang, mau dibawa
kemana generasi mendatang.)