Kamis, 21 Mei 2015

jarum dikaki lintang

JARUM DI KAKI LINTANG

Mbak Atin duduk termangu di tangga rumah peninggalan bapak, rumah yang dulu diperebutkan anak-anak bapak. Mbak Retno, mas Anggoro, dan mbak Ratna bersama menantu-menantu bapak menuduh mbak Atin dan suaminya telah mengguna-gunai bapak agar warisan rumah yang dulu kami tempati sewaktu kecil jatuh ke tangan mbak Atin. Waktu itu mbak Atin cuma menangis bersandar di bahu mas Teguh yang menunduk. Semua orang mengira mas Teguh pasrah menjadi tertuduh karena takut, tapi aku sangat terkejut melihat kilat kemarahan di mata mas Teguh, lelaki kalem yang dulu pernah menjadi pembina pramuka idola di sekolahku. Di mata itu aku tak menangkap sedikitpun bayangan takut. Aku gelisah, ini pertanda tak baik.
"Itu nggak mungkin mbak." Aku mencoba membela mbak Atin yang hanya menangis, dia terlihat sangat lelah, kantung matanya tampak sangat jelas, membuat wajah cantiknya tak menarik.
"Diam kamu Wulan! Anak kemarin sore sudah berani membantah! Tau apa kamu!" Mbak Retno anak sulung kesayangan bapak membentakku. Aku terdiam. Salahku sendiri sudah tahu tabiat kakakku satu itu, tetap saja berani bicara. Di sini, di rumah ini semua kata-kata mbak Retno adalah perintah dan sepertinya bapak mengamini setiap tindakannya.
Mata mbak Atin berkaca-kaca menatap Lintang, gadis kecil semata wayangnya yang sedang asik meniup gelembung ludah di mulutnya, sambil sesekali tersenyum bangga pada ibunya, seakan-akan pamer keahlian barunya. Mbak Atin tersenyum kemudian menghapus ludah di mulut bocah kecilnya, dan disambut cemberut di wajah mungil sikecil. Mbak Atin tersenyum menyadari kesalahannya kemudian menggelitik perut mungil gadis kecilnya, membuat Lintang tertawa terkekeh-kekeh kegelian. Mbak Atin mengelus luka di kaki gadis kecil itu, air matanya mengalir.
"Mas lihat kaki Lintang!" Mbak Atin menjerit memanggil suaminya. Mas Teguh melempar karung goni berisi kelapa yang dipanggulnya ke tanah kemudian berlari menemui istrinya yang terlihat sangat cemas. "Kenapa Tin? Kenapa kamu teriak-teriak begitu?" Mas Teguh panik melihat mbak Atin menangis sambil memeluk Lintang yang pasrah tak bergerak dalam pelukan ibunya. Mas Teguh tak sabar segera mengambil Lintang dari pelukan istrinya, diperiksanya napas, dan badan Lintang, normal tak ada yang aneh tapi memang Lintang terlihat lemah. Mas teguh menatap mbak Atin, bingung. Mbak Atin menunjuk kaki kecil Lintang yang sedikit membengkak. Mas Teguh meraba kaki Lintang, tapi segera mengangkat tangannya seakan-akan tersengat kalajengking. Kemudian dengan tangan gemetar dan muka pucat mas Teguh mencoba meraba lagi kaki Lintang yang memerah. "Duri, ini duri Tin." Setengah berbisik Mas Teguh bicara pada mbak Atin. "Tapi darimana masuknya?"
Mas Teguh kebingungan, ia tak melihat tanda bekas duri-duri itu masuk secara paksa, juga Lintang tak mengeluh sakit, hanya terlihat sangat kelelahan.
"Astaghfirullah, duh Gusti apa yang terjadi pada anak hamba." Mas Teguh mengangkat tubuh lemah Lintang diiringi tatapan bingung mbak Atin. "Cepat! Kita ke Puskes." Mas Teguh kesal melihat sikap lugu istrinya. Mbak Atin mengangguk, kemudian berlari ke kamar mengambil tas kecil, kemudian diisinya perlengkapan Lintang. Mbak Atin segera keluar mendengar teriakan tak sabar suaminya.
"Kita rujuk ke Rumah Sakit Aisyah saja ya pak? Di sini tidak ada alat nya." Mas Teguh hanya mengangguk mengiyakan usul dokter yang memeriksa Lintang.
Dokter Aldi spesialis penyakit bedah di rumah sakit kebingungan melihat hasil scan kaki Lintang, "Banyak sekali jarumnya pak? Sebenarnya apa yang terjadi pada anak bapak?" Dokter  Aldi menunjukkan hasil ronsen pada mas Teguh. Mas Teguh menggeleng, dia shock melihat keadaan anaknya. Ada dua puluh tiga buah jarum bertebaran di kedua kaki Lintang.
"Kita bisa mengeluarkan jarum-jarumnya dengan melakukan tindakan operasi pak. Bagaimana? Kalau bapak setuju silahkan urus administrasinya." Dokter Aldi memberi saran, melihat mas Teguh hanya terpaku menatap lembaran hasil ronsen kaki Lintang.
Mas Teguh terduduk lesu di bale-bale rumahnya, tak seorang pun saudara atau teman yang bersedia meminjamkan uang sebanyak itu. Dia menatap uang tiga juta di dalam kantong kresek di tangannya. Bingung, mau kemana lagi ia mencari uang? Satu-satunya jalan adalah meminjam hutang pada rentenir. Tapi, mas Teguh kapok meminjam uang pada rentenir. Rumah dan sawah mereka hilang diambil secara paksa akibat bunga yang terus menumpuk tak pernah berkurang. Apalagi sekarang tidak ada lagi yang bisa ia gadaikan.
Kesusahan mas Teguh bertambah saat ia melihat bapak berjalan dikejauhan menuju rumah mereka. "Apa lagi ini?" Mas Teguh mengeluh dalam hati. Mas Teguh hanya diam saat bapak mendekat, dia sudah menata hati siap disemprot bapak dengan ceramah pedas yang sering dilontarkan bapak sejak dia dan mbak Atin  memutuskan menikah.
"Ini untuk pengobatan anakmu Le." Mas Teguh tertegun, ia menatap bapak dengan muka tak percaya. Mas Teguh mengigit lidahnya, sakit! Ini tidak bermimpi bapak memberi bungkusan berisi setumpuk uang kertas seratus ribuan. "Mudah-mudahan cukup," kata bapak, kemudian pergi meninggalkan mas Teguh yang bengong, kebingungan.
Bapak sekarat. Akibat kebiasaan buruk bapak yang sangat menyukai rokok, pecandu berat orang bilang, bapak kena kanker, kanker paru. Penyakit kanker parunya sudah memasuki stadium 4, dan tidak mungkin dioperasi lagi. Kami anak-anaknya hanya bisa menangis melihat bapak menderita menahan sakit di dadanya. Bapak menyuruhku mengambil surat wasiat yang disimpan di lemari pakaiannya. Kemudian membacakannya di depan keluarga yang lagi berkumpul.
Mata mbak-mbak dan masku membesar mendengar sebagian besar harta warisan bapak diberikan kepada mbak Atin. Tapi tak seorang pun yang komentar karena masih ada bapak. Muka Mbak Atin pucat melihat kebencian dan kemarahan di mata mereka. Kemudian bapak menyuruh kami meninggalkan mereka berdua, bapak dan mbak Atin.
"Nduk maafkan bapak." Mbak Atin kebingungan melihat air mata bapak menggenang di mata tuanya. "Bapak kenapa? Dimana yang sakit?" Mbak Atin mencoba menenangkan bapak dengan mengurut-urut pelan tangan bapak. Bapak menggeleng, " Ndak ada yang sakit, nduk." Bapak menatap mbak Atin prihatin.
Mbak Atin keluar dari kamar bapak dengan wajah linglung, tak jelas apakah itu sedih atau marah, bingung. Dia hanya menggigit bibir, diam seribu bahasa saat ditanya mbak-mbakku yang penasaran.
Mas Teguh khawatir dengan keadaan istrinya, ia segera pamit membawa mbak Atin pulang ke rumah.
Begitu mbak Atin dan mas Teguh sampai di depan pintu, terdengar suara mbak Retno memanggil bapak kemudian menangis. Mbak Atin terpaku. Air matanya mengalir tapi tak bergeming. Aku kalut, bingung ingin aku berlari ke kamar bapak, tapi entah kenapa aku malah berjalan mendekati pintu tempat mbak Atin berdiri. Aku melihat secarik kertas yang lusuh lepas terjatuh dari tangan mbak Atin. Tak seorangpun memperhatikan itu aku segera memungutnya diam-diam dan menyimpannya.
"Kamu mau ngasih makan apa anakku?" Suara bapak menggelegar memenuhi ruang-ruang di rumah panggung kami. Aku yang sedang menolong mbak Ratna mencabut bulu ayam di dapur menoleh. Cemas. Mbak Ratna menatap aku penuh tanya, kujawab dengan gelengan kepala.
Bapak melarang keras hubungan mbak Atin dengan mas Teguh. Tapi bukannya takut mbak Atin malah nekat pacaran diam-diam, sampai akhirnya mereka berdua kawin lari. Saat itu bapak benar-benar kebakaran jenggot akibat ulah kedua orang itu. Tapi apa mau dikata darah lebih kental dari air, bapak merestui pernikahan mereka berdua walau dengan sangat terpaksa. “Daripada malu lebih dalam lagi,” kata bude Lastri pada bapak sewaktu mbak Atin kabur dengan mas Teguh.
Secarik kertas bertuliskan tangan bapak berisi:
(Nduk, Atin maafkan bapak, bapak benar-benar ndak berniat mencelakakan Lintang, anakmu, cucu bapak, bapak sangat kecewa sama pernikahan kalian, bapak tadinya pingin memberi pelajaran sama suamimu ...., tapi bapak ndak menyangka Lintang yang akan menerima akibatnya, bapak benar-benar minta maaf ya nduk. Tapi sungguh bapak ndak nyuruh mbah ..e.. memasukkan jarum-jarum itu ke suamimu, apalagi kaki anakmu, sungguh!.....)
Aku tidak dapat membaca beberapa tulisan bapak berikutnya. Air mata sepertinya telah menghapus bagian-bagian yang penting dalam surat itu dan sebagian akhir surat itu telah terkoyak dan hilang.
Aku benar-benar penasaran siapa yang telah berniat mencelakakan keponakanku. Aku beberapa kali mencoba bertanya pada mbak Atin tapi mbak Atin hanya diam dan menatapku dengan tatapan aneh yang aku tidak suka.
Kucoba bertanya-tanya pada orang-orang di sekitar rumahku, nama orang-orang pandai paranormal yang mungkin menjadi kunci permasalahan. Kerja keras dan tekatku terbayar, ada beberapa nama yang kudapatkan, dan yang paling meyakinkan adalah mbah Rejo.
Kudatangi rumah mbah Rejo dengan perasaan takut, tempatnya sungguh tidak menyenangkan, bukan karena tempatnya jelek atau jorok. Tidak! Tempatnya lumayan bagus dan bersih tapi ada hawa yang berbeda. Membuat aku merinding.
Lelaki sepuh di depanku menatapku dingin. Uh aku sangat ingin pulang, aku sangat menyesal sok berani dan mencoba menjadi detektif kacangan.
"Kau mau tahu apa?" Mbah Rejo bertanya dengan suara pelan tapi dalam. Aku bingung. Kata-kata yang sudah kususun rapi berantakan.
"Maaf mbah saya cuma mau nanya apa benar bapak pernah ke sini?"
Alis mbah Rejo berkerut "Kau mau tanya apa aku yang mencelakakan keponakanmu? Jawabannya tidak!" Aku terperangah, dia tau apa yang ku pikirkan. Sekarang buntu. "Sebaiknya kau pulang! Tidak ada yang akan kau dapatkan di sini". Mbah Rejo berkata tegas membuat aku tak dapat berbuat apa-apa selain pulang.
"Bukan bapak pelakunya mbak" Aku mencoba mengklarifikasi permasalahan yang terjadi. Mbak Atin diam tetap dengan tatapan anehnya, menatapku. Membuat aku jengah.
"Aku tahu!" Tiba-tiba mbak Atin bersuara saat aku mulai putus asa dengan sikapnya dan mulai melangkah pergi. Aku terkejut, menoleh dan memandangnya bingung. Sungguh sangat banyak pertanyaan muncul di kepalaku.
"Ibunya mas Teguh sudah mengaku!" Kata mbak Atin dingin, aku diam hampir aku tak mengenali suara itu. "Dia tersinggung pada hinaan bapak, dia juga tak sudi punya menantu aku, dia ingin aku mati tapi yang kena justru cucunya yang ada di perutku saat itu." Aku tertegun mendengarnya.
"Tapi kenapa mbak Atin sangat marah saat membaca surat dari bapak?" Aku tak mengerti. Mbak Atin menyunggingkan senyum mengejek. "Bila semua orang tua tega melakukan hal itu pada anaknya, maka siapa lagi yang pantas dipercaya?"
Aku tertegun. Seringai penuh kebencian mbak Atin membuat aku takut.


(Ketika orang tua menjadi orang asing bagi anak-anaknya sendiri, maka apa yang akan terjadi pada generasi berikutnya? Apakah dapat menjadi lebih baik atau lebih menakutkan? Semua tergantung pada kita sebagai generasi sekarang, mau dibawa kemana generasi mendatang.)

1 komentar: